Berbagi Kisah Sebagai Penjilid Buku (Book binder) di Sora Soca


Berbagi kisah di video liputannya Sora Soca, Qubicle.id. Video lain baca lebih lanjut di sini

My Life as a Bookbinder: Binding Connection, Knowledge and Authenticity

Designing Futures in Indonesia, Curated Works Special Issue, Curated by Alexandra Crosby.
© 2016 by Tarlen Handayani. This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4.0 Unported (CC BY 4.0) License (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/), allowing third parties to copy and redistribute the material in any medium or format and to remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially, provided the original work is properly cited and states its license.
Citation: Handayani, T. 2016. My Life as a Bookbinder: Binding Connection, Knowledge and Authenticity. PORTAL Journal of Multidisciplinary International Studies, 13:2, 1-6. http://dx.doi.org/10.5130/portal.v13i2.5023
ISSN 1449-2490 | Published by UTS ePRESS | http://portal.epress.lib.uts.edu.au
Corresponding author: Tarlen Handayani, Tobucil & Klabs, Jl. Panaitan No. 18, Bandung 40112, Indonesia. Website: http://www.tobucil.net. Emails: tobucil@yahoo.com / vitarlenology@gmail.com
DOI: http://dx.doi.org/10.5130/portal.v13i2.5023
Article History: Received 20/06/2016; Revised 27/06/2016; Accepted 11/07/2016; Published 09/08/2016

Abstract

I love to persuade people to write in a journal. In 2008, I received a cultural exchange program scholarship and took the opportunity to learn how to bind books in an Etsy class in Brooklyn, USA. After that, I decided to become a bookbinder. It wasn’t only because of my journaling habit; the decision also fit with my mission to support the literacy movement in Indonesia. This mission is embedded in Tobucil & Klabs, a literacy and hobby community space in Bandung, West Java, that I founded in 2001. The space allows me to spread ideas about literacy through writing and also to share my passion for making hand-bound journals.

Keywords

Indonesia; Indonesian design; batik; Craft; bookbinding; graphic design; handmade

Ketika Menjadi Aktivis Adalah Hobi

Hobi seperti apakah yang cocok untuk para aktivis? Pertanyaan ini muncul ketika saya diminta menulis soal hobi untuk para aktivis untuk laman ini. Saya kira, siapa pun, dari latar belakang apapun, baik aktivis maupun bukan, bisa bebas memilih hobi untuk dijalaninya. Karena hobi adalah pilihan bebas. Ia menjadi aktivitas yang dikerjakan dengan senang hati di waktu luang. Apapun bentuk kegiatannya, selama aktivitas itu bisa memberikan kesenangan bisa disebut hobi. 

Sebelum membicarakan bagaimanakah hobi untuk para aktivis ini, saya akan terlebih dahulu membicarakan soal hobi, terutama yang hobi yang merupakan keterampilan tangan. Selain memberikan kesenangan, aktivitas ini bisa melatih kemampuan motorik dan keahlian dalam membuat sesuatu. Misalnya saja menjahit, merajut, automotif, pertukangan, apapun kegiatan yang membutuhkan keterampilan tangan. 

Banyak orang merasa, aktivitas ini terlalu merepotkan untuk dilakukan, membuang waktu, tenaga, uang dan tidak ada gunanya, karena pekerjaan jauh lebih penting dari kegiatan di waktu luang. Tapi banyak pula yang kemudian justru ketika menekuni hobi, pekerjaan menjadi tidak lagi menarik bahkan seringkali hobi menggantikan pekerjaan. Sebenarnya, tidak harus seekstrem itu. Banyak juga yang kemudian bisa menemukan keseimbangan dari pekerjaan dan hobi di waktu luang. Hobi menjadi penyeimbang, ketika hidup tidak hanya melulu soal pekerjaan. Selanjutnya baca di sini

Catatan Produksi: Menentukan Batas Waktu Pengerjaan

Mulai Januari, meski mulainya di detik-detik terakhir _ aku akan mencoba berbagi catatan tentang produksi dan seputar pengalaman menjadi seorang bookbinder yang memiliki brand 'vitarlenology.' Ini bukan berarti sietem produksiku lebih baik dari yang lain, bukan. Ini justru menjadi catatan buatku sendiri yang mungkin berguna buat orang lain, untuk saling belajar dan berbagi pengalaman sebagai seorang 'crafter' dan 'book binder'. 

"Berapa lama ya perngerjaannya?" atau 'Selesainya kapan ya mba?' pernyataan yang sangat lazim ditanyakan kosumen, ketika mereka memesan produk buatan kita. Dulu aku menjawabnya sesuai dengan waktu minimal yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

Selanjutnya baca di sini.

Menjadi Penjilid dan Perjalanan Menemukan Fokus

Suatu hari, ketika berkunjung untuk pertama kalinya ke markas besar Etsy, di Brooklyn, NYC, tahun 2008, Vanessa Bertonzi yang saat itu bekerja sebagai humasnya Etsy, bertanya padaku "Setelah pulang dari Amerika, apa yang akan kamu lakukan?" Saat itu spontan aku menjawab, "Aku mau jadi desainer stationery." Padahal, aku belum sekalipun punya pengalaman ikut kelas menjilid buku atau hal-hal yang sifatnya mengasah keterampilanku menjilid buku. 

Jawabanku lebih didasarkan pada kesukaanku akan stationery terutama sekali notebook dan alat-alat tulis. Desain Stationery seperti apa yang ingin aku buat, itupun masih kabur. Selanjutnya baca di sini

22 Hari Mendaur Ulang: Membuat Buku Catatan Dari Barang Bekas

Dalam rangka memperingati Hari Bumi, bulan April 2015 lalu, aku membuat hastag khusus di instagram #22recyclednotebooks #22harimendaurulang. Selama 22 hari, mulai 1 sampai 22 April 2015 aku mempublikasikan 1 notebook yang kubuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas sebagai sampulnya maupun sebagai isinya. Sehingga di Hari Bumi ada 22 ide notebook dari barang bekas. Selanjutnya baca di sini